Satu Tindakan di Balik Kata “BELUM”: Transformasi Disiplin Positif di Sekolah
Satu Tindakan di Balik Kata “BELUM”
Transformasi Disiplin Positif di Sekolah
Oleh: I Putu Alex Sudiartana, S.Pd., Gr
(Kepala SMAN 1 Fatuleu Tengah)
Penerapan disiplin positif di SMAN 1 Fatuleu Tengah sudah berjalan dengan memfokuskan pada kesepakatan bersama terkait dengan kehadiran, kerapian atribut dan pemanfaatan gawai secara bijak di sekolah. Hanya saja, berdasarkan catatan dari guru piket harian dan data guru Bimbingan Konseling (BK) menunjukkan bahwa persentase pelanggaran belum mengalami penurunan secara signifikan bahkan pelanggaran-pelanggaran yang ada lebih banyak dilakukan oleh kelompok siswa yang sama. Situasi ini tentu membuat resah para guru, karena program yang dianggap baik ini tidak mampu merubah prilaku siswa sesuai dengan yang diharapkan.
Situasi seperti ini membuat para guru mulai menyuarakan Pola Pikir Tetap (PPT) dengan pendapat bahwa “program ini gagal” dan “siswa tidak bisa diatur tanpa adanya sanksi”. Dengan adanya pendapat seperti ini dari sebagian guru maka akan berdampak pada keinginan guru untuk bernostalgia kembali ke cara-cara lama seperti pemberian hukuman fisik, penyitaan gawai dan penghitungan point pada pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan siswa. Persfektif ini akan mengikis keharmonisan antara siswa dan guru serta membentuk kepatuahan yang dipaksakan.
Sebagai pemimpin di SMAN 1 Fatuleu Tengah, tentu saya akan menuntun para guru untuk melakukan reframing dengan prinsip The Power of "BELUM/YET". Saya akan menegaskan kepada para guru bahwa "Program disiplin positif kita BELUM berjalan konsisten, dan siswa BELUM menemukan motivasi internalnya karena sistem pendampingan kita BELUM menyasar pada akar masalah".
Berdasarkan hal tersebut, selama dua minggu kedepan kami menjalankan siklus problem solving berbasis bukti melalui strategi kecil. Pertama, saat apel pagi guru piket dan wali kelas menjalin kesepakatan bersama melalui sesi check-in selama 5 menit serta menyiapakan kotak gawai setiap kelas. Kedua, sekolah memfasilitasi kelompok siswa yang sering melanggar dengan bimbingan karakter personal. Indikator keberhasilannya adalah penurunan persentase pelanggaran sebesar 15% dan tercapainya kesepakatan bersama penggunaan gawai di kelas. Sedangkan untuk pelaksanaan evaluasi dan pemantauan (iterasi) dilakukan secara berkala melalui pertemuan mingguan para guru untuk memantau data perkembangan serta menyelaraskan startegi yang ada di lapangan.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
TATA TERTIB GURU DAN PEGAWAI SMA NEGERI 1 FATULEU TENGAH TAHUN PELAJARAN 2023-2024
REGULASI Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republ
"Mengapa kurikulum perlu berubah?"
Sabtu, 11 Februari 2023 Oleh I Putu Alex Sudiartana, S.Pd, Gr - Plt. Kepala SMAN 1 Fatuleu Tengah Apa itu kurikulum? Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendid
MENGAPA GURU HARUS MENJADI GURU PENGGERAK?
Nunsaen, 10 November 2022 Oleh I Putu Alex Sudiartana, S.Pd, Gr - Plt.Kepala SMAN 1 Fatuleu Tengah Guru Penggerak Kabupaten Kupang Gambar : Guru Penggerak Kabupaten Kupang Guru Pe
Struktur Cerpen
Pengertian Cerpen Menurut KBBI: Cerpen merupakan cerita pendek yang berisi tentang kisah cerita yang berisi tidak lebih dari 10 ribu kata. Pada umumnya cerita p
Sifon dan Seks Bebas Remaja Sekolahan di Pelosok Timor, NTT
RH, pelajar berusia 18 tahun asal Bonatama, Desa Poto, kecamatan Fatuleu Barat, kabupaten Kupang yang kini duduk di kelas X SMAN 2 Fatuleu Barat mengikuti sunatan (khatan) yang dil
Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Syalom, Salve, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan. Saya I Putu Alex Sudiartana, Calon Guru Penggerak Angkatan 4 Kabupaten